Rabu, 18 Agustus 2010

SAIR BERDARAH






Tatapan tajam membeku haus kejahataan
menatap liar mencari kehidupan
berjuang deras diramainya ibu kota

hidup berkelompok meminta upah
tak halal....halal..dusta akan derita

berdarah hitam bergigi besi

ada yang berlebih berfoya-foya disaat sair ini menelan derita dan kematian
bergaya cukong
ala hongkong
melihat mereka berebut nasi singkong




siap menampar dinginnya malam
menampar darah jalanan gundah berkata

siap berkelana dipanasnya terik
liar bagai dihutan belantara
lari sini berlari kesana
liar menatap tajam mangsa
tanpa perduli siapa anda



apa 
dalam ilusi 
mimpi



 
ya yang lemah santapannya
sang penguasa ibu kota bermain sandiwara

sair tertulis memakan kepahitan
sair berdarah akan kutukan kebejatan hidup
kata terbuang dalam jembatan
rintihan lapar
rintihan kanak-kanak tanpa mengenyam sekolah
jeritan kematian karena keegoisan

pena yang patah
penaku rapuh

para penghisap darah pun berdiskusi dengan para waria

akan mereka yang terlupa
hina daun ganja dan morfin disarang buaya


anjing betina dan buaya pun menjilat kembali muntahanya
menerima upah demi kampung tengah
 

lacur
..
sair ini hantaman muka wajah gersang mereka
apa memang benar terlupa
seakan tak ada logika



berjuang mencari makan
sang pemburu kota beraksi
tertawa sang jagoan tertawan kelakar pembucit
dimana ada logika disitu mereka berada

wajah gigi gertak tak berotak menipu daya
sair..sair indonesia
luka berdarah 
kugoreskan tinta goresan pedang dengan darah
untukmu sahabatku yang terluka


sairku untukmu sahabat yang teraniaya
..
sairku untuk hidup berarti


COBRA SWEAT MATOA